Adventurous Journey

ku cinta kamu

indah nian batu pualam, kawan lama berhati riang

hidup indah bersama alam, hewan disayang Tuhan kan senang

 

Seorang sarjana peternakan tidak harus menjadi seorang peternak. Seorang sarjana peternakan harus memiliki dan mampu mengaplikasikan jiwa seorang peternak dalam kesehariannya.

Jiwa seorang peternak menembus batas jiwa seorang enterpreneur,

Jiwa seorang peternak adalah mereka yang pekerja keras alias ulet, rajin alias tekun, penyabar alias penyayang, pengasih alias pemurah, dermawan namun tetap bersahaja, optimis dalam kesabaran, tenang dengan kepercayaan diri tinggi, bersahabat diliputi kepercayaan, jujur bersama kerendahan hati, bersyukur serta yakin hanya Allah sang pelindung dan penolong.

Image

 

13 November 2012, -syu-

Advertisements

1.1 syukur

indah nian kota balikpapan

buah srikaya jadi idaman

syukuri setiap peningkatan

niscaya Allah kan tambahkan

 

-syu-

::30okt2012::

Sebuah Fenomen (Jilid I.2)

Di Bali sana, jika terlihat oleh petugas ada pengunjung yang buang sampah ke sembarang tempat akan didenda Rp. 50.000,- di Inul Fiezta Karaoke café didenda Rp. 20.000,- namun di pantai indah sepanjang Indonesia, semua orang bebas buang sampah tanpa ada petugas yang menegurnya. Sudut pandang terbagi saat ditemukannya fenomena seperti itu. Di satu sisi, buang sampah sembarangan itu biasa saja, tidak salah dan juga tidak benar selama di sekitar area berjalan mereka tidak ditemukan adanya tempat sampah. Di sisi lainnya dapat terlihat bahwa membuang sampah sembarangan itu jelas tidak diperbolehkan, dilarang, bahkan melanggar etika lingkungan dan bermasyarakat.

Kedua sudut pandang tersebut tidak salah dan juga tidak juga benar. Itulah fungsi dan tugas dari para pemangku kebijakan untuk mengatur atau merancang agar kedua pendapat tersebut tidak saling menyalahkan.

Beberapa kondisi baik itu di lokasi wisata ataupun intansi di Indonesia bagian manapun, tempat sampah atau wadah khusus untuk meletakan sampah itu jarang ditemukan bahkan tidak sama sekali ditemukan. Sekalipun ada, jaraknya berjauhan. Dengan kondisi seperti ini, akan sulit untuk memperbaiki animo masyarakat dalam perilaku membuang sampah.

Sejatinya sangatlah mudah untuk memperbaiki animo masyarakat terkait buang sampah sembarangan. Rumah kosan Kastil Ummi, salah satu kosan hunian madani mahasiswa kampus IPB, telah mencoba dan mulai memberikan hasil yg terbaik dalam hal pengaturan sampah. Hanya hal sederhana yg dilakukan, yaitu lima wadah tempat sampah yg berlokasi berdekatan dan strategis, kontinuitas pengangkutan yang dilakukan oleh bagian kebersihan setiap pagi hari sehabis solat subuh, dan tidak ada larangan atau anjuran atau sanksi karena yang ada hanyalah rasa sadar diri yang muncul dengan sendirinya. Segala sesuatu itu membutuhkan waktu, tidak bisa seperti sulap yang dengan sekejap mata dapat berubah. Maka dari itu, berdoa adalah standar operasional baku terakhir dalam rangkaian tujuan menjaga kebersihan bersama. End..

Indonesia kaya akan keindahan pantainya. Setiap wilayah dipastikan memiliki garis pantai yang semuanya begitu indah. Ada pantai yang berombak tinggi ada juga yang berdesir merdu. Mulai dari pantai dengan garis daratan-lautan yang panjang hingga tebing curam, semua ada di Indonesia. Turis lokal dan mancanegara singgah dengan leluasa sekalipun harus menempuh hutan rimba, jalan berkelok hingga membelah gunung untuk menikmati keindahan pantai Indonesia.

Ombal-ombak pantai yang tinggi, desiran air laut yang menghantam pinggir pantai, begitu memesonanya negeri ini. Turis mancanegara memanfaatknya dengan berselancar atau surfing dan pengunjung lokal memanfaatkannya dengan berfoto aneka gaya.

Image

Dari kejauhan terlihat beberapa orang bule sedang menyisiri pantai sembari menunggu waktu datangnya ombak yang tinggi. Mereka membawa kantung plastik agak besar tanpa ada yang menyuruh atau meminta. Sepanjang pantai mereka sisiri dan setiap sampah yang ditemukan akan mereka masukan ke dalam kantung plastik yang mereka bawa, sementara itu…

Dari kejauhan tampak muda-mudi pribumi dengan wajah khas orang melayu yang menawan, tangan kiri menenteng sebuah botol air kemasan dan tangan kanannya menenteng sebungkus makanan ringan. Sembari jalan selepas makan dan minum, tanpa ada perintah ataupun kepentingan, botol minuman dan bungkus makanan terjatuh begitu saja dari tangan-tangan mereka di tempat mereka berjalan. Sekalipun tidak ada tempat sampah di sana. Akan tetapi, begitu mudah sampah itu terjatuh dan dibiarkan begitu saja. Padahal, tukang sampah atau cleaning services tidak sedikit pun menampakan dirinya.

Salah seorang empunya warung di pinggir pantai ternyata dekat dengan orang-orang bule yang sering berselancar di pantai tersebut. Tak jarang beliau menyampaikan sebuah fenomena yang menyedihkan di masyarakat Indonesia dimana mereka para bule meremah botol minuman dan bungkus makanan dan memasukannya ke dalam saku mereka bahkan memungut sampah yang mereka temukan di pinggir pantai dan juga memasukannya ke dalam saku mereka, sedangkan para pribumi dengan entengnya menjatuhkan bekas makan dan minum mereka di mana saja mereka berlalu sekalipun ada tempat sampah di samping mereka.

Rumah-rumah penginapan pun menjadi saksi perilaku pribumi dan non pribumi yang pernah singgah. Mereka orang-orang non pribumi khususnya para bule menempati rumah penginapan dalam keadaan bersih dan meninggalkannya juga dalam keadaan bersih. Orang-orang pribumi singgah di suatu rumah penginapan dengan menempatinya dalam keadaan bersih dan meninggalkannya tidak ubahnya seperti tempat pembuangan akhir, sampah dimana-mana bahkan roti wanita pun tidak dimasukan ke dalam plastik atau sejenisnya.

…to be continued

Pantun Kemenangan 1433H

Intan bersinar pantulkan mentari

Kabut berganti cahaya pagi

Maafkan salah selama ini

Sambut kemenangan di hari nan fitri

 

Buah pinang dibelah dua

Kayu merbau asli Papua

Hari kemenangan telah tiba

Pintu maaf terbuka untuk semua

 

::selamat Idul Fitri 1433H::

#sejahtera bersama warga

Image

….

Sebuah penyimpangan atau kesalahan informasi bisa memicu perpecahan ummat yg berlangsung sampai hari ini. Nah, yg menjadi harapan kita semua adl kpd setiap tokoh Islam jangan suka memprovokasi ummat, yg justru berakibat pada perpecahan ummat. Namun sebaliknya, sudah sepantasnya para tokoh Islam melakukan penyatuan ummat. Prinsipnya adl, jika belum mampu menyatukan ummat, maka jangan sekali-kali memecahnya.

Saya pribadi pun hingga saat ini sering kali melihat dan mendengar bahwa masih ada saja penceramah atau pembicara, entah mereka menyadari atau tdk, justru mengadu domba ummat. Ini jelas sangat berbahaya, krn setiap informasi yg disampaikan, akan langsung diterima mentah-mentah oleh para pendengar. Sering kali adanya kesalahpahaman informasi, lalu diumumkan kpd publik. Ini kan jadi penyakit hati nantinya. Seharusnya, setiap informasi yg masuk, dikomunikasikan lebih dulu dan sejatinya kita berbaik sangka lebih dulu, terlebih lagi kpd segenap media masa janganlah pula ikut memanas-manasi.

Kesalahpahaman yg timbul akibat informasi yg tdk tepat sungguh sangatlah berbahaya. Audzu billahi minasy syaithonir rajim..

“yaaa ayyuhalladzi na aamanuuu ing jaaa akum faa sikum binabaing fatabayyanuuu ang tushiibu qouwumaa bi jahaalating fatush bihuu ‘alaa maa fa’altum naadimiin.”

Dlm qur’an surah al hujurat ayat 6 tersebut dikatakan, “hai orang-orang yg beriman, jk dtg kpd mu orang fasik yg membawa suatu berita, maka periksalah dgn teliti, agar kamu tdk menimpakan suatu musibah kpd suatu kaum, tanpa mengetahui keadaan, yg menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Sebab turunnya ayat ini adl berkenaan dgn para pemungut zakat yg dikirim Rasulullah Saw ke suatu wilayah. Ketika utusan amil zakat tsb menjelang tiba di tempat tujuan, sang utusan tsb melihat ada pasukan berkuda yg berdiri berjajar. Sang utusan tsb menyangka bahwa pasukan berkuda itu akan menghadangnya, lantas kemudian dirinya berbalik arah kembali dan melapor kpd Rasulullah Saw, bahwasanya ada sepasukan berkuda yg akan menyerangnya. Akan tetapi, beruntunglah, wilayah yg dituju segera dgn cepat mengirim utusannya datang kpd Rasulullah untuk menjelaskan bahwa niat mereka akan menyambut rombongan amil zakat, bukan untuk menghadangnya.

Mengatasi konflik dan memperkuat hubungan sosial dapat dicapai dgn membiasakan berkomunikasi dgn cara yg baik, terutama jika komunikasi tersebut dilakukan oleh para pemimpin dan para elite atau pejabat serta para tokoh nasional.

Setiap pemimpin dan jg para elite atau pejabat hendaknya lebih cerdas dalam memilih diksi atau pilihan kata dlm berucap, khususnya ketika mengeluarkan pernyataan-pernyataan yg sering kali akan dikutip oleh media massa nantinya. Pernah ada tokoh nasional yg menyindir pemerintah seperti orang menari poco-poco, maju selangkah mundur selangkah alias gak ada kemajuan, kemudian salah seorang pejabat pemerintahan tsb membalas dgn mengatakan, “anda juga seperti undur-undur, jalannya mundur terus ga pernah maju”. Ini kan suatu bentuk bahasa yg tdk menarik didengar dan juga rendah akan khasanah ilmu bahasa.

Peristiwa tersebut tdk lain adl komunikasi para elite dan pimpinan yg miskin khasanah sastra. Apakah sudah tdk bisa lagi menggunakan cara yg lebih sopan dan baik? Indonesia memiliki bentuk sastra yg sangat apik dan sopan serta menarik, yaitu misalnya bahasa pantun. Dgn pantun, seloka, atau talibun, gurindam, dan lain sebagainya, akan membawa kpd suasana yg lebih cair sehingga tdk akan marah orang yg diingatkan atau disindir. Namun demikian, inti pesan untuk orang tersebut tetap dapat tersampaikan dgn baik. Misalnya ketika hadirin terlihat mengantuk atau tertidur,

kang Amin membeli beras

Beras di antar ke rumah datuk

Para hadirin sungguhlah cerdas

Kecuali, kalau sudah mengantuk

Sangat berbeda bukan, ketika sebuah sindiran dan peringatan disampaikan tanpa memilih diksi atau pilihan kata yg pas, bisa-bisa bikin orang tersinggung atau marah krn kesalahpahaman yg mungkin saja terjadi.

Nah, setelah dialog dan komunikasi dibudayakan dgn cara yg baik, maka selanjutnya adl akan terjadi kontestasi atau semacam uji publik terhadap ide-ide, pemikiran, atau konsep. Biarlah publik yg menilai. Krn dlm suatu hubungan sosial yg sehat, seseorang tdk boleh memaksakan ide-idenya sendiri tanpa terlebih dahulu mensosialisasikannya kpd masyarakat.

Selain dr pd itu, para elite dan pimpinan serta antar tokoh nasional jg perlu menciptakan simbol-simbol persatuan, bahwa mereka akur bersatu dan membina hubungan yg harmonis. Untuk itulah dibutuhkan adanya forum-forum pembauran. Bukan sekadar antara pribumi dan non pribumi, melainkan jg antaretnis, antarsuku, antarbudaya, antarkelompok, dan antaragama, bahkan antarharokah islamiah.

Orang-orang seperti saya yg berada pd tataran akar rumput, tatanan orang bawah, akan senantiasa melihat bahkan mencontoh para elite atau tokoh serta pimpinan. Begitu di tingkat elite itu damai, maka masyarakat bawah atau akar rumput pun ikut damai. Namun sebaliknya, begitu para elite itu bertengkar sedikit saja, maka masyarakat yg di bawah bisa saling baku hantam dan mencerca.

Mencegah terjadinya konflik di tengah-tengah masyarakat telah menjadi kewajiban bagi setiap elemen bangsa ini. A ’udzu bil laahi minasy syaithaanir rajiim,

“fabimaa rahmatim minallahi lingta lahum, walau kungta fatzan galii tzal qalbi lang fadhuu min haulik, fa’fu anhum was tagfir lahum wasyaa wir hum fil amr, fai dza ‘azamta fatawak kal ‘alallah, innallaha yuhib bul mutawak kilin”

Maka berkat rahmat Allah engkau Muhammad berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakalah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yg bertawakal (Al Imran: 159).

Hutan belantara melintasi sumatera

Allah subhana hu wa ta’ala, sungguh mencintai kita semua

Image

::Asyuhandar Arif::

–dikutip dr pemikiran Menkominfo RI 09/14–

Pentingnya Masa Penyambutan

Mendengar kabar bahwa Salman Al Farisi akan tiba, khalifah Umar ra begitu bahagia dan antusiasnya beliau menyambut kedatangan salah satu sahabat Rasulullah tersebut.

Kesan pertama merupakan titik menuju garis yang dari garis tersebut akan terbentuk dimensi menciptakan keindahan atau keharmonisan hubungan dalam keluarga. Setiap anggota keluarga akan begitu senang jika diperhatikan bahkan disambut oleh anggota keluarga lainnya. Dari hubungan ini akan terjalin kerjasama yang harmonis dan saling memperhatikan satu sama lain.

Image

Fakultas Peternakan IPB adalah satu keluarga yang terdiri dari civitas akademika yang tidak lain merupakan hubungan harmonis antara mahasiswa, tenaga kependidikan, dosen, dan staff serta teknisi dan juga mereka yang hidup berdampingan dalam satu bingkai fakultas. Setiap anggota keluarga baru yang muncul disambut hangat dengan penuh antusias, kondusif, dan tentunya memberikan gambaran bagi anggota baru tersebut perihal kondisi di dalam satu atap rumahnya yang baru, Fakultas Peternakan IPB.

Setiap keluarga memiliki tradisi atau tata cara penyambutan yang berbeda-beda karena itu semua adalah hak yang menjadi kewajiban antar anggota keluarga. Setiap fakultas memberikan tipe atau suasana penyambutan keluarga barunya yang berbeda. Hal tersebut memberikan sebuah keistimewaan tersendiri yang bergantung pada kondisi, suasana, dan tujuan hidup keluarga tersebut terbentuk. Faperta, FKH, FPIK, Fapet, Fahutan, Fateta, FMIPA, FEM, dan FEMA memiliki kekhasan tradisi penyambutannya masing-masing. Hanya saja tradisi tersebut senantiasa fleksibel menyesuaikan kondisi perkembangan zaman atau generasi. Tradisi penyambutan lima tahun lalu sudah tidak berlaku lagi tahun ini, bahkan tradisi tahun lalu pun juga belum tentu sesuai dengan kondisi tahun ini.

Salah satu contohnya adalah lima tahun lalu belum begitu berkembang teknologi komunikasi sehingga setiap kegiatan penyambutan keluarga baru tidak begitu dapat terpublis ke media, berbeda dengan zaman sekarang dengan perkembangan teknologi komunikasinya yang begitu bebas. Salah satu kondisi tersebut memberikan sebuah kreativitas tersendiri dalam penyambutan untuk lebih aktif menyadarkan. Sudah bukan zamannya lagi memberi hukuman, melainkan saatnya untuk membentuk kesadaran.

Sulit? Tidak. Bahkan sangat mudah. Kesadaran dibentuk melalui perhatian. Intensitas pertemuan dibuat lebih banyak dan beragam serta tidak harus melalui pengumpulan secara masiv. Komunikasi sejak dini, agenda-agenda tatap muka dan duduk bersama menjadi andalan dalam membentuk kesadaran bersaudara. Dengan terbentuknya kesadaran, harmonisasi hubungan sejak dini antar keluarga baru dan antara keluarga baru dengan penghuni dalam satu rumah tinggalnya dapat lebih cepat dan mudah tercipta.

Tag Cloud